Kisah Mohammad Fikri, pejuang KIP-K yang menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk terus belajar, berkarya, dan meraih mimpi.
Mohammad Fikri, Alumni Pendidikan Fisika Universitas Jember. Mahasiswa penerima KIP-Kuliah berprestasi yang tumbuh dari keterbatasan, berani menjelajah dunia pendidikan hingga Thailand, dan kini akan melanjutkan perjalanan akademiknya melalui PMDSU di Universitas Negeri Yogyakarta.
“Jangan sampai mati dalam keadaan penasaran.”
Kalimat sederhana tersebut menjadi salah satu prinsip yang terus dipegang oleh seorang mahasiswa asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, ia justru tumbuh menjadi sosok yang memiliki semangat besar untuk terus belajar, mencoba berbagai pengalaman, dan mengejar pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Namun, keterbatasan ekonomi tidak membuatnya berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah muncul tekad untuk membuktikan bahwa kesempatan pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan.
Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga
Berasal dari Banyuwangi, ia merupakan anak tengah dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya merupakan lulusan sekolah dasar dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah kondisi tersebut, ia tumbuh dengan kesadaran bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk mengubah masa depan.
Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, perjalanan pendidikannya banyak terbantu melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya hingga akhirnya ia berhasil menjadi mahasiswa di Universitas Jember melalui jalur SNMPTN, yang kini dikenal sebagai SNBP.
Namun, diterima di perguruan tinggi bukan berarti seluruh persoalan selesai. Justru muncul kekhawatiran baru: bagaimana membiayai pendidikan di perguruan tinggi?
Saat itu, pengumuman sebagai penerima KIP-K belum keluar. Kondisi tersebut sempat menjadi dilema besar karena apabila tidak mendapatkan KIP-K, biaya pendidikan harus ditanggung sendiri.
Karena itu, ketika akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah, rasa bahagia yang dirasakan bukanlah sekadar karena mendapatkan beasiswa. Ada sebuah beban besar yang seolah terangkat dari pundak keluarga.
KIP-K dan Kemandirian dalam Menjalani Kuliah
Bagi dirinya, KIP-K memberikan dampak yang sangat besar terhadap perjalanan pendidikan. Sejak menjadi penerima KIP-K, ia bahkan tidak lagi meminta uang kepada orang tua untuk kebutuhan sehari-hari selama kuliah. Kondisi tersebut bukan hanya membuatnya lebih mandiri, tetapi juga membantu meringankan beban orang tua.
Menariknya, bantuan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui pengelolaan keuangan dan kebiasaan menabung, ia mampu membeli perangkat pembelajaran seperti laptop menggunakan uang yang dikumpulkannya sendiri.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan finansial. Jika dikelola dengan baik, beasiswa dapat menjadi modal bagi seorang mahasiswa untuk membangun kemandirian dan mengembangkan potensi.
Tidak Minder Menjadi Mahasiswa KIP-K
Menjadi mahasiswa penerima KIP-K ternyata tidak membuatnya merasa minder dibandingkan mahasiswa lainnya. Baginya, KIP-K bukanlah sekadar program bantuan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi. Penerima KIP-K juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi target akademik maupun nonakademik. Hal tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Jika ada keterbatasan yang dirasakan, menurutnya hal tersebut lebih banyak berkaitan dengan gaya hidup. Sebagai mahasiswa penerima KIP-K, diperlukan kemampuan untuk mengatur keuangan dengan baik agar kebutuhan selama satu bulan dapat terpenuhi.
Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, ia justru menjadikannya sebagai bahan bakar untuk terus bergerak. “Ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Selain diri sendiri yang harus berjuang, ada keluarga yang menunggu anaknya pulang menjadi sarjana.”
Kalimat tersebut menggambarkan bahwa perjuangan pendidikan baginya bukan hanya tentang mencapai kesuksesan pribadi. Di balik setiap langkahnya, terdapat keluarga yang menjadi alasan untuk terus bertahan dan berkembang.
Berani Mencoba Banyak Hal
Selama menjalani pendidikan tinggi, ia tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Berbagai pengalaman turut dijalani, mulai dari organisasi, pengabdian masyarakat, menjadi tentor olimpiade, hingga bekerja.
Apa yang membuatnya berani mencoba banyak hal? Jawabannya sederhana:
“Jangan sampai mati dalam keadaan penasaran.”
Prinsip tersebut membuatnya tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Baginya, pengalaman tidak selalu harus dimulai dari rasa yakin bahwa dirinya sudah mampu. Terkadang, seseorang justru harus mencoba terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki.
Dari berbagai pengalaman tersebut, kemampuan berkomunikasi dan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan yang paling berkembang.
Sebagai calon pendidik, public speaking menjadi kemampuan yang sangat penting. Tidak hanya digunakan ketika mengajar di kelas, kemampuan berkomunikasi juga dibutuhkan ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Belajar Menjadi Guru dari Thailand
Salah satu pengalaman yang memberikan perspektif baru terhadap dunia pendidikan adalah ketika ia mengikuti International Teaching Assistance di Thailand. Pengalaman tersebut membuat pandangannya mengenai profesi guru semakin luas.
Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Guru juga memiliki peran dalam mendampingi siswa dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk memperhatikan kondisi kesehatan mental mereka.
Ia melihat bahwa kedekatan emosional antara guru dan siswa memiliki peranan penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Guru diharapkan dapat memiliki kedekatan dengan siswa sebagaimana orang tua, sehingga siswa merasa aman, nyaman, dan mendapatkan dukungan dalam proses perkembangannya.
Pengalaman internasional tersebut akhirnya memberikan pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya berbicara mengenai penyampaian materi, tetapi juga tentang manusia yang berada di balik proses pembelajaran.
Dari Rasa Ingin Tahu Menuju Dunia Penelitian
Ketertarikannya terhadap penelitian ilmiah juga berawal dari sesuatu yang sederhana rasa ingin tahu. Ketika menjadi mahasiswa baru, salah satu sikap ilmiah yang diajarkan oleh dosen adalah pentingnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta kemampuan berpikir kritis.
Dari sana, ia mulai memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki ruang yang sangat luas. Ia kemudian mengibaratkan ilmu seperti lautan lepas. Semakin seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui. Perasaan tersebut justru membuatnya semakin tertarik untuk mendalami penelitian ilmiah.
Baginya, penelitian bukan hanya tentang menghasilkan sebuah karya ilmiah. Penelitian merupakan proses untuk mencari jawaban, menguji gagasan, dan menemukan pengetahuan baru.
Produktif dengan Menangkap Ide
Di tengah berbagai aktivitas akademik dan nonakademik, tentu diperlukan strategi agar tetap produktif. Salah satu kebiasaan yang ia terapkan adalah tidak menunda ide yang muncul secara tiba-tiba.
Ketika mendapatkan sebuah ide, ia akan langsung berusaha mengerjakannya, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop hingga ide tersebut dapat diwujudkan.
Hal yang sama juga berlaku ketika muncul keinginan untuk belajar. Ketika mood belajar datang, ia memilih untuk langsung membuka buku atau laptop daripada menundanya.
Menurutnya, waktu belajar tidak harus selalu dibatasi hanya satu atau dua jam. Selama kondisi memungkinkan dan pekerjaan yang dilakukan masih produktif, waktu tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Memiliki Target Besar di Jenjang S2 hingga S3
Perjalanan akademik yang masih panjang tentu memiliki target yang ingin dicapai. Salah satu target terbesarnya selama menempuh pendidikan S2 hingga S3 adalah menghasilkan setidaknya 10 publikasi ilmiah internasional yang terindeks Scopus.
Target tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Namun, di balik target akademik tersebut terdapat prinsip yang lebih besar: terus belajar dan terus memberikan manfaat melalui ilmu yang dimiliki.
Untuk Para Pejuang KIP-K: Jangan Kecewakan Doa Orang Tua
Perjalanan dari keluarga sederhana hingga menjadi sarjana pertama di keluarga memberikan satu pesan penting: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bagi mahasiswa penerima KIP-K yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan, ia memberikan pesan yang sangat sederhana tetapi penuh makna.
“Ingatlah kedua orang tuamu yang selalu mendoakan di saat-saat kamu tidak mengetahuinya. Doa mereka yang besar jangan kamu gagalkan dengan kemalasanmu.”
Pendidikan mungkin tidak selalu mudah. Ada masa ketika tugas terasa berat, keadaan ekonomi menjadi tantangan, atau semangat belajar mulai menurun.
Namun, selalu ada alasan untuk kembali melangkah.
Ada orang tua yang menunggu.
Ada keluarga yang berharap.
Dan ada masa depan yang sedang diperjuangkan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang bagaimana ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk memberikan manfaat.
Pulanglah dan bahagiakan kedua orang tuamu dengan ilmu yang bermanfaat yang kamu peroleh selama S1.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus lahir dari keluarga berada untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Dengan kesempatan, kerja keras, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar, keterbatasan dapat menjadi titik awal dari sebuah perjalanan panjang menuju prestasi.


0 Komentar